Kenapa awan gak jatuh padahal isinya air semua?

Kalau dipikir-pikir, awan itu aneh banget. Isinya jelas air, dan satu awan cumulus bisa beratnya jutaan ton — lebih berat dari sekawanan gajah digabung. Tapi tiap hari awan melayang aja di langit, gak pernah jatuh ngelindesin kita. Kok bisa?
Rahasianya: air di awan itu gak berupa gumpalan air kayak bak mandi yang dilempar ke langit. Airnya tersebar jadi tetesan-tetesan super kecil banget, sekitar 0,02 milimeter (20 mikron) — sekitar sebutir debu. Nah, benda sekecil itu ringan banget, dan udara di sekitarnya cukup kental buat nahan dia. Jadi setiap tetesan jatuhnya super pelan, seolah-olah “ngambang” di udara.
Belum lagi di dalam awan selalu ada arus udara panas yang naik dari bawah (namanya updraft). Arus ini kayak penggembar raksasa yang terus ngedorong tetesan-tetesan air ke atas. Jadi tiap tetesan itu sebenarnya lagi “balapan” — jatuh ke bawah pelan-pelan, tapi terus ketolong dorongan udara naik. Hasilnya: awan tetap di tempatnya.
Terus kapan awan jatuh? Saat tetesan-tetesan itu bertumbuk dan menggumpal jadi makin gede. Kalau udah mencapai sekitar 2 milimeter — seribu kali lebih gede dari tetesan awan biasa — dorongan udara gak kuat lagi nahan, dan jatuhlah dia sebagai hujan. Jadi awan gak pernah “jatuh” sekaligus; dia cuma ngeluarin tetesan satu-satu setelah gumpalannya cukup berat.
Mitos vs fakta: banyak yang ngebayangin awan itu semacam “spons raksasa” yang diperas jadi hujan. Kenyataannya awan lebih kayak kabut yang melayang — isinya bukan air padat, tapi jutaan tetesan mikroskopis yang selalu bergerak dan bergumpal pelan-pelan. Makanya awan bisa “hilang” dengan cara menguap tanpa turun hujan sama sekali.
sumber: NOAA / National Weather Service