Skip to main content

Kenapa banyak daerah pake nama pohon/buah?

Kenapa banyak daerah pake nama pohon/buah?

Kalau kamu jalan-jalan di Jakarta, Bandung, atau kota besar lain di Indonesia, pasti sering nemu nama daerah yang aneh-aneh: Mangga Besar, Jambu, Rambutan, Manggis, Bintaro, Kosambi, Menteng, Cihampelas. Kok kayaknya gak ada hubungannya sama sekali dengan buah atau pohon? Ternyata, semua nama itu emang berasal dari tumbuhan yang dulu tumbuh subur di daerah tersebut.

Dulu, sebelum ada peta digital atau GPS, cara orang menandai lokasi ya pakai apa yang kelihatan dan bisa dikenali. Pohon buah yang besar, rindang, atau buahnya yang melimpah jadi penanda alami yang gampang diingat. Misalnya, Kampung Rambutan di Jakarta Timur konon dinamain karena di sana banyak pohon rambutan. Mangga Besar? Ya karena memang dulu banyak pohon mangga yang buahnya besar-besar di sana. Praktis, gak perlu bikin nama ribet — cukup sebut aja apa yang tumbuh di situ.

Bukan cuma Jakarta. Di Bandung, Cihampelas berasal dari “hampelas” — sejenis pohon dari keluarga muraceae yang daunnya kasar dan bisa dipake buat amplas tradisional. Kosambi? Itu nama pohon kesambi (Schleichera oleosa), kerabat rambutan yang kayunya super keras dan dulu dipake buat jangkar perahu. Menteng, yang sekarang jadi kawasan elite Jakarta Pusat, ternyata dulunya dipenuhi pohon menteng atau kepundung — buah kecil-kecil yang rasanya masam. Daerahnya dinamain dari buah itu.

Ada juga yang lebih seru. Bintaro, yang sekarang jadi nama stasiun MRT dan kawasan serpong, ternyata nama sejenis pohon yang buahnya beracun. Bintaro (Cerbera manghas) masuk kategori “suicide tree” karena bijinya mengandung racun yang bisa hentikan detak jantung. Untunglah sekarang orang cuma kenal Bintaro sebagai nama stasiun, bukan sebagai racun. Dan di Subang atau Sumedang, kemang — sejenis mangga yang baunya harum banget — juga dijadikan nama daerah.

Jadi sebenernya, nama-nama daerah ini bukan random atau aneh-aneh. Itu warisan budaya dari nenek moyang kita yang hidup deket sama alam. Mereka gak butuh penunjuk jalan yang canggih — cukup pohon buah yang familiar, dan semua orang ngerti. Sayangnya, banyak pohon-pohon itu sekarang udah gak ada lagi karena kota makin padat dan lahan hijau makin sempit. Tapi namanya? Tetap hidup, bahkan sampe generasi kita sekarang.

sumber: Komunitas Aleut, RRI