Kenapa bulan bisa terang banget di malam hari?

Coba keluar sebentar pas bulan purnama, terus matiin lampu halaman. Terangnya bisa sampai bikin bayangan kita sendiri keliatan di tanah, padahal yang nyala cuma bulan. Wajar kalau banyak yang ngira bulan itu punya cahaya sendiri kayak matahari kecil. Faktanya, bulan gak punya lampu sama sekali — dia cuma mantulin cahaya matahari yang kena permukaannya.
Yang bikin makin kaget: permukaan bulan itu sebenarnya gelap. Menurut NASA, dari semua cahaya matahari yang kena bulan, cuma sekitar sepersepuluhnya yang dipantulin balik ke angkasa. Sisanya ditelen batuan basalt hasil lava kuno yang warnanya gelap — sebagian ilmuwan bahkan nyeletuk albedo (daya pantul) bulan itu setara aspal atau papan tulis hitam. Bandingin aja sama Bumi yang mantulin sekitar 30 persen cahaya matahari, atau Venus yang lebih dari 50 persen.
Lalu kenapa bulan tetap keliatan paling terang di langit malam? Jawabannya jarak. Bulan cuma sekitar 385.000 km dari kita, sementara Venus yang albedonya jauh lebih tinggi itu jaraknya puluhan juta kilometer. Jadi walau bulan cuma mantulin sepotong kecil cahaya matahari, jumlah cahaya yang nyampe ke mata kita tetap paling gede. Di skala kecerahan astronom, bulan purnama ada di angka sekitar minus 12,7 — kira-kira 250.000 kali lebih terang dari Sirius, bintang paling terang di langit malam. Walaupun gitu, matahari masih sekitar 400.000 kali lebih terang dari bulan purnama.
Ada satu lagi yang bikin purnama keliatan “lebay”: namanya efek oposisi. Pas purnama, posisi matahari, bulan, dan kita hampir segaris, dan debu halus di permukaan bulan (regolith) punya sifat mantulin cahaya balik ke arah asalnya, mirip pantulan lampu di rambu jalan. Efeknya, malam purnama jauh lebih terang daripada malam sehari-dua hari sebelumnya yang bulannya udah keliatan “hampir penuh”. Kalau kebetulan bulan lagi ada di titik terdekat dengan Bumi (perigee alias supermoon), terangnya bisa nambah sampai 30 persen dibanding bulan paling redup dalam setahun.
Bonus mitos vs fakta: bercak gelap di bulan itu sering disebut “lautan”, padahal bukan air. Itu dataran luas lava basalt yang daya pantulnya rendah, sementara bagian terangnya adalah dataran tinggi berisi batuan yang lebih memantulkan cahaya. Jadi wajah “man in the moon” yang sering kita lihat itu sebenarnya peta perbedaan daya pantul permukaan bulan — bukan lampu yang dinyalain dari dalam.
sumber: NASA Science — Moonlight · NASA Science — Supermoons · The Old Farmer’s Almanac — Amazing Moon Facts · University of Arizona, Wyant College of Optical Sciences — Lunacy (opposition effect)