Skip to main content

Kenapa kita bisa denger detak jam di ruangan sepi tapi gak kedengeran di tempat rame?

Pernah gak sih, malem-malem di kamar yang hening banget terus denger detak jam dinding? Padahal di siang hari pas rumah rame, detek jam itu gak pernah kedengeran sama sekali. Ternyata ini bukan karena jamnya berubah, tapi karena cara telinga dan otak kita bekerja.

Jadi gini, di siang hari lingkungan kita itu sebenernya penuh banget sama suara — suara kendaraan, angin, AC, orang ngobrol, kipas angin, dan segala macem. Semua suara ini punya tingkat kebisingan sendiri, dan otak kita secara sadar maupun nggak sadar memilah-milah mana yang penting dan mana yang bisa diabaikan. Fenomena ini disebut auditory masking atau pemetaan pendengaran — suara yang lebih keras secara otomatis “menutupi” suara yang lebih pelan. Detak jam cuma sekitar 30 desibel (dB), sementara suara ruangan rame bisa 50-60 dB. Jadi detak jam itu kalah jauh dan tenggelam dalam kebisingan.

Nah, pas malam hari atau di ruangan yang benar-benar sepi, tingkat kebisingan latar belakang (ambient noise) turun drastis — bisa cuma 20-25 dB. Di kondisi ini, detak jam yang 30 dB itu jadi jauh lebih menonjol dibanding suara-suara lain yang sudah “pulang.” Otak kita yang tadinya sibuk memilah puluhan sumber suara sekarang cuma punya sedikit input, jadi suara kecil sekalipun langsung ditangkap dan diproses.

Yang menarik, ada juga peran sensitivitas telinga yang berubah seiring waktu. Telinga kita punya sistem proteksi alami yang bisa menurunkan sensitivitas kalau terpapar suara keras terus-menerus. Jadi di lingkungan rame, telinga kita secara refleks “mengencangkan” diri biar gak overload. Tapi di tempat sepi, telinga justru “melepas” proteksi itu dan jadi lebih sensitif terhadap suara-suara kecil. Makanya detak jam yang biasanya gak terasa tiba-tiba jadi terdengar jelas.

Jadi intinya, suara detak jam itu selalu ada — yang berubah itu kemampuan kita mendengarkannya. Kalau lagi sepi, otak kita lagi “kosong” dari gangguan, dan telinga jadi lebih peka. Kalau lagi rame, suara jam tenggelam di tengah hiruk-pikuk yang lebih dominan. Mirip kayak kalau kamu di kamar gelap terus liat bintang, tapi di siang bolong bintangnya ada cuma gak keliatan karena terlalu terang.

sumber: NCBI — Neuroscience, 2nd Edition: The Auditory System