Skip to main content

Kenapa kita suka ngerasain detak jantung yang tiba-tiba kenceng?

Kenapa kita suka ngerasain detak jantung yang tiba-tiba kenceng?

Pernah gak sih lagi enak-enak rebahan sambil main HP, terus tiba-tiba dada berdebar kencang banget padahal gak abis lari atau olahraga? Rasanya kayak jantung mau lompat keluar. Yang bikin heran, momennya sering muncul justru pas kita lagi santai. Padahal jantung kita emang berdetak terus, 24 jam sehari, dari sebelum kita lahir sampai sekarang, tanpa pernah kita suruh.

Jadi pertanyaan yang lebih tepat bukan “kenapa jantung berdetak”, tapi “kenapa tiba-tiba kita ngerasain”. Normalnya jantung berdetak sekitar 60–100 kali per menit dan kita gak ngeh sama sekali. Kita baru sadar ada detakan kalau sesuatu bikin denyutnya jadi lebih kuat, lebih cepat, atau ritmenya berubah. Pemicu paling sering: adrenalin. Harvard Health menyebut palpitasi sebagai “kesadaran akan detak jantung yang kuat, cepat, atau gak beraturan”, dan adrenalin dari emosi kuat — kaget, takut, panik, marah, bahkan senang berlebihan — bisa bikin pacemaker alami di jantung (nodus SA) langsung ngebut. Selain adrenalin, Mayo Clinic mencatat pemicu lain yang cukup sehari-hari: olahraga berat, kafein, nikotin, alkohol, dehidrasi, demam, obat flu yang mengandung pseudoephedrine, sampai perubahan hormon pas haid atau hamil.

Nah, ini bagian mitos vs faktanya. Banyak yang langsung panik mikir “jantung berdebar kencang = tanda serangan jantung”. Faktanya, mayoritas palpitasi itu gak bahaya dan cuma lewat beberapa detik. Termasuk sensasi aneh kayak ada satu detakan yang “kelewat” — itu bukan jantungnya berhenti, tapi ada detakan ekstra yang datang sedikit lebih awal (disebut premature atrial contraction atau premature ventricular contraction). Habis detakan ekstra itu, jantung jeda sebentar buat balik ke ritme normal, dan selama jeda itu darah numpuk. Pas detakan berikutnya keluar, ventrikel harus memompa lebih kuat buat ngosongin tumpukan darah tadi — nah, hentakan kuat itulah yang kita rasain sebagai “deg!” gede. Menurut Harvard Health, detakan jenis ini umum banget dan biasanya gak perlu dikhawatirkan kalau cuma muncul sesekali. Ada juga fakta lucu: kalau kita tidur miring ke kiri, detak jantung jadi lebih kedengeran karena getarannya bergema di dalam rongga dada.

Tapi bukan berarti boleh diabaikan total. Kalau palpitasi datang bareng pusing, sesak napas, nyeri dada, keringat dingin, atau rasa mau pingsan, itu tandanya langsung periksa ke dokter. Begitu juga kalau frekuensinya makin sering atau udah ganggu aktivitas sehari-hari — biasanya dokter bakal masang alat perekam jantung (Holter) selama beberapa hari sampai dua minggu buat nangkep ritme yang bermasalah. Buat nenangin diri pas kambuh, cara paling gampang adalah napas pelan: tarik napas 4 detik, tahan 4 detik, buang 6–8 detik. Napas yang panjang saat membuang itu menstimulasi saraf vagus, yang kerjanya kayak nginjek rem buat detak jantung yang lagi ngebut.

sumber: Mayo Clinic — Heart palpitations: Symptoms & causes · Harvard Health — Be still, my beating heart · Harvard Health — When should you worry about abnormal heartbeats?