Skip to main content

Kenapa es itu licin padahal keliatan kasar?

Kenapa es itu licin padahal keliatan kasar?

Kalau kamu perhatiin es batu dari dekat, permukaannya itu gak halus kayak kaca — malah keliatan adalek-altek, kasar, kayak kristal gitu. Tapi begitu kena tangan atau lantai, langsung licin banget. Kok bisa, ya?

Jadi gini, meskipun keliatan kasar dari luar, permukaan es itu sebenernya punya lapisan air tipis banget yang gak keliatan mata. Lapisan ini terbentuk karena molekul air di permukaan es punya lebih sedikit “tetangga” dibanding yang di dalam. Kalau di dalam es, tiap molekul diikat kuat ke tetangganya — makanya padat. Tapi di permukaan, beberapa tetangga gak ada (karena udara, bukan es), jadi molekulnya punya lebih banyak ruang gerak dan gampang bergerak. Hasilnya? Lapisan tipis yang behave-nya kayak air — dan itu yang bikin licin.

Dulu, ilmuwan bilang es licin karena tekanan kaki kita itu “mencairkan” permukaan es. Tapi teori ini udah dipatahkan — tekanan dari sepatu atau kaki kita ternyata terlalu kecil buat nge-melt es secara signifikan. Hipotesis lain bilang gesekan yang bikin permukaan meleleh, tapi masalahnya es udah licin sejak langkah pertama, belum ada gesekan apa-apa. Jadi jawaban yang paling masuk akal tetap soal lapisan premelt tadi — permukaan es emang udah “basah” dari sononya, bahkan sebelum ada yang naruh kaki di atasnya.

Yang menarik, penelitian terbaru (2022, dipublikasikan di Physical Review Letters) juga nunjukin mekanisme lain: saat dua permukaan es saling bergesek, molekul di permukaannya bisa “lepas” dari susunan kristalnya — efek yang disebut amorfisasi. Molekul yang lepas ini bikin permukaan makin licin, terutama di suhu rendah di mana lapisan premelt tipis. Jadi es licin bukan cuma karena satu alasan, tapi kombinasi beberapa faktor sekaligus.

Jadi intinya, jangan tertipu sama tampilan kasar es. Permukaannya itu “berbohong” — di balik tekstur yang keliatan keras dan bergerigi, ada lapisan molekul yang bebas bergerak dan bikin kita terpeleset tanpa ampun.

sumber: Quanta Magazine, Kompas Sains