Kenapa hidung kita pesek?

Kalau kamu pernah dibilang “hidungmu pesek” dan penasaran kenapa bentuk hidung orang Indonesia cenderung ke arah sana, jawabannya ada di iklim tropis dan ribuan tahun evolusi. Bukan semata-mata soal genetik yang “kurang mancung” — ada fungsi nyata di balik bentuk hidung yang lebar dan datar.
Bentuk hidung manusia ternyata sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim tempat nenek moyang kita hidup. Penelitian dari Penn State University yang dipublikasikan di jurnal PLOS Genetics (2017) menemukan bahwa lebar lubang hidung berkorelasi kuat dengan suhu dan kelembapan udara. Hidung yang lebar dan pendek lebih umum ditemukan di daerah tropis yang panas dan lembap, sementara hidung yang sempit dan panjang lebih banyak di daerah yang dingin dan kering. Ini sudah diamati sejak akhir abad ke-19 lewat yang disebut “Aturan Thompson” — ilmuwan Arthur Thompson menyatakan bahwa hidung panjang dan tipis muncul di iklim kering-dingin, sedangkan hidung pendek dan lebar muncul di iklim panas-lembap.
Lalu, kenapa iklim menentukan bentuk hidung? Fungsi utama hidung adalah mengondisi udara sebelum masuk ke paru-paru — memanaskan dan melembapkannya. Di iklim dingin, udara yang masuk harus dipanaskan lebih banyak supaya paru-paru tidak kaget. Hidung yang sempit dan panjang memaksa udara melewati area yang lebih panjang di dalam rongga hidung, sehingga proses pemanasan dan pelembapan jadi lebih efisien. Sebaliknya, di iklim tropis yang sudah hangat dan lembap, kita tidak butuh proses pemanasan ekstra itu. Hidung yang lebih lebar memungkinkan udara masuk lebih banyak dan lebih cepat, cocok untuk kondisi di mana udara sudah cukup nyaman tanpa perlu diubah suhunya terlalu banyak.
Nenek moyang orang Asia Tenggara, termasuk yang mendiami Indonesia, sudah hidup di lingkungan tropis selama ribuan tahun. Seleksi alam secara perlahan “memilih” individu yang hidupnya lebih sehat dan punya lebih banyak keturunan — dan di iklim tropis, itu berarti mereka yang punya hidung lebar dan pendek. Proses ini berlangsung sangat lambat dan terjadi lintas generasi, sehingga karakteristik hidung yang lebar ini menjadi dominan di populasi Asia Tenggara. Jadi kalau hidungmu pesek, itu sebenarnya tanda bahwa nenek moyangmu sudah sangat cocok dengan iklim tropis.
Menariknya, genetika bukan satu-satunya faktor. Sejarah migrasi dan perkawinan campur di Indonesia juga memunculkan variasi yang kaya — tidak sedikit orang Indonesia yang punya hidung sedang atau bahkan cukup mancung karena campuran genetik dari Timur Tengah, Eropa, atau Asia lainnya. Ada juga hipotesis bahwa “pilihan seksual” turut berperan — seseorang mungkin tertarik pada pasangan dengan bentuk hidung tertentu, dan ini bisa memengaruhi distribusi bentuk hidung di suatu populasi dari generasi ke generasi. Jadi pada akhirnya, bentuk hidung kita adalah hasil dari kombinasi iklim, genetik, dan sedikit faktor sosial yang bekerja selama ribuan tahun.
sumber: Penn State University · Halodoc