Skip to main content

Kenapa kaca itu tembus cahaya tapi gak tembus tangan?

Kenapa kaca itu tembus cahaya tapi gak tembus tangan?

Pernah gak sih kamu berdiri di depan jendela, liat cahaya matahari tembus masuk, terus tiba-tiba kepikiran: eh kalau cahaya aja bisa lewat, kenapa tangan kita gak bisa ikut nyelonong? Kan aneh, padahal kaca itu benda padat — gak encer, gak bolong-bolong, keliatan rapet banget.

Jawaban pertamanya soal cahaya. Di dalam kaca, elektron-elektronnya cuma boleh duduk di tingkat energi tertentu, dan sayangnya energi cahaya tampak gak cocok buat bikin mereka pindah. Karena gak ada yang menyerap, foton cahaya lewat begitu aja — makanya kaca keliatan bening. Mitos lama bilang kaca itu “cairan yang sangat kental” yang pelan-pelan mengalir, padahal kaca itu padat, cuma susunan atomnya acak (namanya padat amorf), bukan berarti ada celah buat cahaya.

Jawaban keduanya soal tangan. Emang benar atom itu 99% ruang kosong — teoretis kita semua bisa muat di sebutir gula kalau semua ruang kosongnya dihilangkan. Tapi elektron di tangan kamu dan elektron di kaca saling tolak: mereka gak bisa menempati keadaan kuantum yang sama, plus tolakan elektromagnetik makin mengeras begitu mereka dipaksa berdekatan. Jadi pas tangan kamu napak ke kaca, yang terjadi bukan “menembus”, tapi jutaan elektron saling dorong sampai berhenti di permukaan.

Jadi “tembus” di dua kalimat itu beda cerita. Cahaya tembus karena gak ada yang menyerapnya; tangan gak tembus karena elektronnya saling nolak. Dua benda padat, dua jawaban yang sama sekali gak nyambung satu sama lain.

sumber: Britannica - Transparency of matter · HowStuffWorks - What makes glass transparent? · Brown University Science - Why can’t you walk through walls?