Kenapa kita bisa kentut?

Eh, pernah gak sih kepikiran kenapa perut kita bisa “ngeluarin suara” kayak gitu? Ternyata kentut itu bukan cuma soal makan kacang doang — ada proses biologi yang cukup keren di baliknya.
Jadi begini, setiap kali kita makan dan minum, sebagian udara ikut masuk ke dalam tubuh lewat mulut. Udara ini masuk ke saluran cerna dan akhirnya keluar lewat dubur. Tapi itu cuma sebagian kecil. Gas yang paling banyak sebenernya diproduksi oleh bakteri di usus besar kita. Bakteri-bakteri ini “memfermentasi” sisa makanan yang gak bisa dicerna oleh perut kecil — terutama karbohidrat kompleks yang susah dipecah, kayak oligosakarida yang banyak terdapat di kacang-kacangan.
Nah, yang bikin kentut bau itu sebenernya cuma kurang dari 1% dari total gas yang keluar. Sisanya — oksigen, nitrogen, karbon dioksida, hidrogen, dan metana — semuanya gak berbau. Yang bikin bau adalah senyawa belerang yang diproduksi oleh bakteri saat memecah makanan berprotein tinggi, terutama yang mengandung asam amino belerang. Jadi kalau habis makan telur rebus atau daging, kemungkinan kentutnya bakal lebih “tajam”. Rata-rata orang kentut 8 sampai 20 kali sehari — itu normal banget.
Yang menarik, setiap orang punya “isi” kentut yang beda-beda. Volume gas per hari bisa mencapai 476 hingga 1.491 mililiter! Dan ternyata, ada beberapa orang yang bahkan gak bisa menghasilkan metana di saluran cernanya — karena metana itu diproduksi oleh mikroba khusus yang gak semua orang punya. Jadi kalau kentutmu bisa dibakar, berarti tubuhmu punya mikroba metana yang aktif. Kalau gak bisa, yaudah, kamu cuma kurang beruntung di bagian itu aja.
sumber: Wikipedia - Flatulence