Skip to main content

Kenapa kita gak inget pengalaman pas masih bayi?

Kenapa kita gak inget pengalaman pas masih bayi?

Coba deh dipikir: bisa gak kamu inget pertama kali diriku dimandikan, atau waktu pertama kali liat wajah ibu? Kemungkinan besar jawabannya gak bisa. Memori masa bayi itu seperti terhapus total — dan ternyata hal ini punya nama sendiri: amnesia infantil.

Otak bayi sebenernya udah bisa bikin memori

Banyak orang ngebayangin otak bayi itu “kosong” atau belum bisa menyimpan apa pun. Tapi penelitian terbaru dari Yale University (2025) ngebuktiin sebaliknya. Para peneliti nunjukin gambar baru ke bayi berusia 4 bulan sampai 2 tahun, lalu ngukur aktivitas hippocampus — bagian otak yang berperan dalam menyimpan memori spesifik. Hasilnya? Semakin aktif hippocampus bayi waktu pertama kali liat gambar, semakin lama mereka menatap gambar itu saat dilihat lagi. Artinya, bayi memang bisa menyimpan memori — otak mereka gak selemah yang dikira.

Lalu kenapa kita tetap gak bisa inget?

Jadi masalahnya bukan di penyimpanan, tapi di pengambilan kembali (retrieval). Ada beberapa alasan kenapa memori masa bayi hilang saat kita udah dewasa:

1. Produksi neuron yang terlalu cepat. Bagian hippocampus bernama dentate gyrus di otak bayi itu produksi neuron-nya luar biasa cepat. Neuron-neuron baru ini terus menyambung ke sirkuit memori yang udah ada — dan ironisnya, justru ngganggu jaringan memori lama. Bayangin kayak kamu terus nulis di hard disk yang kapasitasnya masih kecil: data baru numpuk data lama sampai yang lama ke-overwrite.

2. Belum ada bahasa dan konsep diri. Bayi dan anak kecil belum punya kemampuan bahasa yang cukup untuk “mengemas” pengalaman jadi cerita yang bisa diingat. Mereka juga belum punya rasa “aku” yang stabil — jadi pengalaman gak tersimpan sebagai kenangan pribadi, lebih kayak rangkaian gambar tanpa judul.

3. hippocampus belum matang sepenuhnya. Meskipun udah bisa bikin memori jangka pendek, hippocampus bayi belum sepenuhnya berkembang untuk mengunci memori jangka panjang. Butuh waktu sampai sekitar usia 3-7 tahun sampai sistem memori kita beneran “stabil”.

Tapi ada sisi menariknya

Meskipun kita gak bisa mengingat masa bayi secara sadar, penelitian pada tikus nunjukin bahwa jejak memori masa kecil itu sebenernya masih ada — cuma gak bisa diakses secara normal. Jejak ini bisa “terbangun” oleh pengingat (reminder) tertentu. Itulah kenapa trauma masa kecil bisa tetap mempengaruhi perilaku kita dewasa, meskipun kita gak inget kejadiannya secara spesifik.

Yang lebih seru lagi: kenangan yang paling kuat dan bertahan lama justru dari masa remaja — fenomena ini disebut reminiscence bump. Karena di usia itu kita lagi membangun identitas diri, setiap pengalaman “dikemas” lebih kuat oleh otak karena relevan dengan siapa kita.

Jadi intinya: otak bayi gak blank — cuma sistem penyimpanannya belum siap untuk “dibaca” versi dewasa nanti. Mirip kayak file yang udah disimpan di folder yang salah — datanya ada, tapi kita gak tau cara ngaksesnya.

sumber: Yale News | Queensland Brain Institute | Wikipedia: Childhood Amnesia