Skip to main content

Kenapa kita sering gigit lidah sendiri?

Kenapa kita sering gigit lidah sendiri?

Pernah gak sih lagi makan enak, terus tiba-tiba “ADUH!” — lidah kegigit? Atau lagi asyik ketawa lebar, eh malah lidah sendiri yang jadi korban? Kebanyakan orang pasti pernah. Tapi kenapa sih tubuh kita sendiri bisa “serang” lidah yang seharusnya jadi teman dekat gigi?

Lidah itu ternyata super kompleks

Lidah bukan cuma otot biasa. Lidah punya delapan otot — empat otot intrinsik yang mengubah bentuk lidah (memipihkan, memipihkan, melengkungkan) dan empat otot ekstrinsik yang mengubah posisinya (menjulur, menarik, menggeser ke kiri-kanan). Semuanya harus bekerja sinkron dengan otot rahang yang menggerakkan gigi atas dan bawah.

Masalahnya, rahang dan lidah dikontrol oleh jalur saraf yang berbeda. Rahang bisa menutup sangat cepat — refleks mengunyah itu salah satu gerakan paling cepat di tubuh manusia. Sementara itu, lidah butuh waktu sedikit lebih lama untuk menyingkir dari jalur gigi. Perbedaan sepersekian detik inilah yang bikin lidah “terjebak” di antara gigi yang sudah menutup.

Kenapa bisa sering terjadi?

Ada beberapa kondisi yang bikin koordinasi lidah-gigi jadi kacau:

Makan terlalu cepat. Saat buru-buru, otak fokus pada kecepatan dan volume makanan. Koordinasi halus antara lidah yang memindahkan makanan dan rahang yang mengunyah jadi kurang presisi. Lidah akhirnya kegigit tanpa sengaja.

Bicara sambil makan. Ini salah satu penyebab paling umum. Lidah sedang sibuk membentuk kata-kata, tapi rahang tetap mengunyah. Dua tugas ini saling berebut kendali atas ruang yang sama di dalam mulut.

Ketawa atau tersenyum lebar. Saat mulut terbuka lebar, lidah kehilangan “posisi amannya” di belakang gigi. Posisinya jadi lebih dekat ke tepi gigi, sehingga risiko kegigit naik drastis.

Stres dan kelelahan. Kondisi mental dan fisik yang buruk menurunkan koordinasi motorik halus — termasuk koordinasi antara lidah dan gigi. Makanya orang yang lagi capek banget atau stres lebih sering kegigit lidah.

Gigit lidah saat tidur

Beberapa orang juga menggigit lidah saat tidur, dan ini berhubungan dengan kondisi bernama bruxism — kebiasaan menggigit atau menggerindingkan gigi secara tidak sadar saat tidur. Prevalensinya cukup tinggi, diperkirakan sekitar 22% populasi dunia mengalaminya. Saat rahang bergerak refleks di malam hari, lidah yang sedang rileks bisa saja terjepit di antara gigi-gigi yang tiba-tiba menutup.

Kenapa gigit lidah itu SAKIT banget?

Lidah dipenuhi lebih dari 10.000 taste buds dan ribuan reseptor saraf sensorik yang sangat sensitif. Bahkan gigitan kecil sekalipun bisa memicu rasa sakit yang luar biasa karena saraf-saraf ini langsung mengirim sinyal peringatan ke otak. Ini sebenarnya mekanisme pertahanan tubuh — lidah adalah organ penting untuk makan, bicara, dan mengecap, jadi tubuh memastikan kita langsung merasakan kalau ada yang salah.

Kabar baiknya, meskipun sakit, gigitan lidah biasanya sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Mulut punya aliran darah yang sangat baik, sehingga proses penyembuhannya jauh lebih cepat dibandingkan luka di bagian tubuh lain.

Jadi intinya, gigit lidah itu bukan tanda tubuh kita bodoh — justru ini konsekuensi punya lidah yang super fleksibel dan rahang yang super cepat. Dua sistem canggih yang kadang-kadang gak sinkron aja, kok.

sumber: Wikipedia — Tongue, Wikipedia — Bruxism