Skip to main content

Kenapa kita suka rebahan padahal kerjaan menumpuk?

Kenapa kita suka rebahan padahal kerjaan menumpuk?

Pernah gak sih, laptop udah nyala, tab kerjaan udah kebuka, tapi tangan malah ngambil HP dan badan mendarat di kasur? Rasanya kayak kita “males” doang. Padahal kamu tahu banget kerjaan itu penting dan waktunya makin mepet.

Menurut Fuschia Sirois, peneliti psikologi dari Durham University, yang terjadi sebenarnya bukan soal males atau manajemen waktu yang jelek. Ini soal emosi. Tugas yang kita tunda biasanya bikin gak nyaman: bosan, ribet, atau bikin cemas mikirin hasilnya. Dan pindah ke rebahan atau scroll HP langsung ngasih rasa lega. Peneliti nyebutnya short-term mood repair — kita bukan ngindarin tugasnya, tapi ngindarin rasa gak enak yang muncul tiap kali mikirin tugas itu.

Ini yang bikin mitos “kalau mau produktif, disiplinin diri lebih keras” sering gak jalan. Riset Sirois nemu procrastination justru nempel erat sama rasa bersalah dan malu, dan yang bantu orang keluar adalah self-compassion, bukan cambuk. Bahkan ada eksperimen yang ngasih latihan ngatur emosi cuma 2 minggu, dan hasilnya kebiasaan menunda ikut turun.

Di kepala kita juga ada tarik-menarik: bagian emosional (limbic system) maunya nyaman sekarang, sementara prefrontal cortex yang mikir jangka panjang kalah cepat. Tambah lagi, tugas yang dibayangin dikerjain “nanti” kerasa lebih ringan daripada dikerjain “sekarang” — padahal sama beratnya. Makanya “nanti aja” selalu menang tipis.

Jadi cara keluarnya bukan nunggu mood bagus. Kecilin aja langkah pertamanya: buka file-nya, tulis satu kalimat, dua menit juga cukup. Soalnya riset juga nunjukin kita biasanya nebak tugas itu jauh lebih berat dan lebih lama dari kenyataannya. Kalau udah keburu rebahan, jangan dihajar rasa bersalah — bangun, terus mulai dari versi paling kecil.

foto cover: Shixart1985 / Wikimedia Commons (CC BY 2.0) sumber: American Psychological Association — Why we procrastinate and what to do about it (Fuschia Sirois, PhD) sumber: NIH PMC — Procrastination and Stress: A Conceptual Review of Why Context Matters