Kenapa langit bisa berubah warna saat badai?

Kalau lagi mau hujan deras dan tiba-tiba langit berubah warna — entah jadi hijau, gelap pekat, atau kemerahan — pasti rasanya agak aneh, kan? Kayak dunia mendadak pakai filter. Tapi ternyata perubahan warna langit saat badai itu bukan sekadar ilusi optik biasa, melainkan hasil dari “main campur” cahaya matahari, awan, dan butiran air.
Jadi begini ceritanya. Awan badai yang tebal banget (awan cumulonimbus, yang tingginya bisa mencapai 15 km) punya butiran air dan bahkan batu es di dalamnya. Cahaya matahari yang masuk ke awan ini terpantul dan dihamburkan oleh butiran-butiran itu. Nah, saat matahari berada rendah di ufuk — misalnya sore hari menjelang sunset — cahayanya sudah melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal, sehingga banyak cahaya biru yang sudah tersebar dan yang tersisa didominasi warna kemerahan atau oranye. Ketika cahaya kemerahan ini bertemu dengan butiran air dan batu es di awan yang menghamburkan cahaya biru, campurannya menghasilkan warna hijau. Fenomena inilah yang bikin langit terlihat kehijauan sebelum badai besar.
Kalau langitnya bukan hijau, tapi gelap pekat kebiruan atau keabu-abuan, itu karena awan cumulonimbus yang sangat tebal memblokir hampir seluruh cahaya matahari. Semakin tinggi dan padat awannya, semakin sedikit cahaya yang sampai ke tanah — makanya rasanya seperti senja padahal jam tiga sore. Sementara warna kemerahan atau kekuningan bisa muncul karena campuran debu dan uap air yang menghamburkan cahaya dengan cara tertentu.
Yang menarik, langit hijau saat badai sering diasosiasikan dengan cuaca ekstrem — bahkan potensi hujan es atau puting beliung. Jadi kalau lihat langit mendadak hijau, itu bisa jadi tanda untuk segera cari tempat aman.
sumber: National Weather Service (NOAA) & Wikipedia