Skip to main content

Kenapa nguap itu bisa nular ke orang sebelah?

Kenapa nguap itu bisa nular ke orang sebelah?

Pernah gak sih lagi duduk di ruangan sepi, terus orang di sebelah kamu nguap — dan beberapa detik kemudian kamu juga ikutan nguap? Padahal kamu gak capek, gak ngantuk, tapi tetap aja kepancing. Fenomena ini sudah lama bikin penasaran para ilmuwan, dan jawabannya ternyata berkaitan langsung dengan cara otak kita bekerja.

Mirror Neuron: Otak yang Aktif Saat Melihat Orang Lain

Kuncinya ada di sel-sel otak yang disebut mirror neuron. Sel ini pertama ditemukan di area motorik otak primata pada tahun 1990-an. Yang unik dari mirror neuron adalah: sel ini aktif baik saat kita melakukan gerakan tertentu, maupun saat kita melihat orang lain melakukan gerakan yang sama. Jadi ketika kamu melihat orang nguap, bagian otak yang aktif kalau kamu sendiri yang nguap juga ikut menyala — tanpa kamu sadari.

Mirror neuron ini jadi dasar dari apa yang disebut emotional contagion, yaitu proses di mana emosi dan perilaku menyebar dari satu orang ke orang lain secara spontan. Nguap menular hanyalah salah satu bentuknya. Tertawa menangis saat nonton film sedih bareng-bareng juga termasuk fenomena yang sama.

Lebih Dekat = Lebih Gampang Kena

Yang menarik, ternyata kita lebih gampang kena nguap menular dari orang yang kita kenal dekat — keluarga, sahabat, atau pasangan — dibanding orang asing. Hal ini sudah dibuktikan dalam beberapa penelitian. Hubungan emosional yang kuat bikin mirror neuron kita lebih responsif terhadap ekspresi orang tersebut.

Bahkan hewan juga bisa kena! Anjing, misalnya, sudah terbukti bisa “tertular” nguap dari manusia yang merawatnya. Tapi anjing tidak ikut nguap saat melihat orang asing nguap — artinya faktor kedekatan emosional berlaku juga di dunia hewan.

Anak Kecil Belum Bisa Kena

Kalau kamu punya adik atau keponakan yang masih balita, coba perhatikan: mereka biasanya belum ikut nguap kalau melihat orang lain nguap. Fenomena nguap menular baru muncul sekitar usia 4 sampai 5 tahun, yang kebetulan bertepatan dengan perkembangan theory of mind — kemampuan untuk memahami bahwa orang lain punya pikiran dan perasaan yang berbeda dari kita.

Tanpa theory of mind, otak anak kecil belum bisa “membaca” bahwa orang di sebelah sedang nguap, sehingga mirror neuron-nya tidak terpancing. Ini juga jadi bukti kalau nguap menular itu bukan sekadar refleks fisik biasa — ada unsur sosial dan emosional yang terlibat.

Bahkan Membaca Tentang Nguap Saja Cukup

Kamu mungkin sudah mulai merasa ingin nguap sekarang setelah baca artikel ini — dan itu normal. Penelitian menunjukkan bahwa nguap menular bisa dipicu bukan cuma dengan melihat orang lain nguap, tapi juga dengan mendengar suara nguap, menonton video orang nguap, atau bahkan membaca kata “nguap”. Otak kita cukup sensitif terhadap stimulus ini sampai bayi yang masih di kandungan pun sudah bisa ikut nguap kalau sang ibu melihat video orang nguap.

Jadi intinya: nguap menular itu bukan soal kamu capek atau ngantuk — tapi soal otak kita yang secara natural dirancang untuk terhubung secara emosional dengan orang di sekitar kita. Itulah yang bikin kita makhluk sosial.

sumber: Wikipedia - Yawn, Wikipedia - Emotional Contagion