Kenapa niup "hah" hangat tapi "fuh" dingin?

Coba deh taruh tangan kamu di depan mulut. Sekarang niup pelan-pelan dengan mulut lebar (“hah”) — terasa hangat kan? Sekarang rapetkan bibir jadi kecil dan niup lagi (“fuh”) — tiba-tiba terasa lebih dingin. Kok bisa beda padahal udaranya dari paru-paru yang sama?
Jawabannya ada di bentuk mulut kamu. Waktu mulut lebar (“hah”), udara keluar dengan kecepatan rendah dan cenderung stabil. Suhunya masih mendekati suhu tubuh kita, sekitar 37 derajat Celsius, jadi terasa hangat di kulit. Tapi waktu bibir dirapatkan (“fuh”), udara dipaksa lewat lubang yang jauh lebih kecil. Ini bikin udara keluar lebih kencang dan mengembang secara tiba-tiba dari tekanan tinggi di dalam paru-paru ke tekanan rendah di luar.
Di sinilah ilmu fisika bekerja — efek Joule-Thomson. Ketika gas mengembang dengan cepat dari tekanan tinggi ke rendah, suhunya turun. Ibarat kamu semprot kaleng aerosol terus-terusan — bagian yang disemprot terasa dingin karena gas di dalamnya mengembang dan mendingin. Hal yang sama terjadi waktu kamu niup “fuh”: udara terkompresi di paru-paru mengembang lewat celah kecil bibir, dan suhunya turun beberapa derajat.
Jadi sebenernya udara dari paru-paru kita itu selalu hangat. Yang bikin “fuh” terasa dingin itu bukan karena udaranya dingin, tapi karena udara hangat itu mengembang terlalu cepat sehingga suhu permukaannya turun sebelum sampai ke kulit kita. Makanya kalau mau ngetes apakah makanan panas atau enggak, lebih baik pakai “hah” — angin hangatnya gak akan menipu lidah kamu.
sumber: Wikipedia – Joule-Thomson Effect, Scientific American