Skip to main content

Kenapa waktu terasa makin cepat seiring kita tambah tua?

Kenapa waktu terasa makin cepat seiring kita tambah tua?

Coba inget masa kecil — kok rasanya liburan panjang banget, tapi sekarang sebulan kayak kedipan mata? Kamu gak sendirian. Hampir semua orang ngerasain hal yang sama: waktu makin cepat berlalu makin tua kita. Kok bisa ya?

Teori Proporsi — 1 tahun buat anak vs orang dewasa

Peneliti dari Duke University, Adrian Bejan, punya penjelasan yang cukup masuk akal. Kalau kamu baru berumur 5 tahun, 1 tahun itu representasi 20% dari seluruh hidupmu — waktu yang sangat panjang. Tapi kalau kamu sudah 50 tahun, 1 tahun cuma 2% dari hidupmu. Otak kita membandingkan pengalaman baru dengan total pengalaman yang sudah kita punya, jadi makin banyak pengalaman, makin “tipis” terasa satu tahun.

Bayangin kamu lagi nonton film pertama kali — rasanya lama banget karena semua elemen baru. Tapi kalau kamu nonton film yang genre-nya sama untuk ke-100 kalinya, ceritanya berasa lebih cepat karena otak sudah bisa prediksi alurnya. Prinsip yang sama berlaku untuk hidup kita sehari-hari.

Teori Informasi Baru — Kenapa masa kecil terasa panjang

Teori lain yang juga diakui para ahli psikologi: masa kecil penuh dengan pengalaman baru yang pertama kali kita alami. Pertama kali naik sekolah, pertama kali lihat salju, pertama kali jatuh cinta — semua itu menciptakan kenangan yang kaya dan detail. Otak mencatat lebih banyak “marker” waktu karena banyak hal yang belum pernah dialami.

Sebaliknya, sebagai orang dewasa, rutinitas kita cenderung berulang. Bangun, kerja, makan, tidur — pola yang sama berulang tiap hari. Otak tidak perlu mencatat hal-hal yang sudah biasa, jadi minggu demi minggu berganti tanpa banyak kenangan baru yang tertanam. Hasilnya? Waktu terasa seperti terlewat begitu saja.

Dopamine dan Penurunan Kemampuan Otak

Ada juga faktor neurologis. Dopamine — neurotransmitter yang berhubungan dengan rasa senang dan penasaran — cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Dopamine ini berperan dalam memproses waktu. Ketika levelnya tinggi (seperti saat kita masih anak-anak dan semuanya menarik), waktu terasa melambat. Ketika menurun (seiring usia dan rutinitas), waktu terasa berjalan lebih cepat.

Jadi bukan waktu yang benar-benar berubah kecepatannya — tapi otak kita yang memprosesnya berbeda.

Kenapa liburan cepat tapi kerjaan lambat?

Pernah nggak merasa kalau hari libur kok cepet banget, tapi hari kerja rasanya lambat? Ini karena di hari libur kita melakukan banyak hal baru dan menyenangkan — otak mencatat banyak kenangan, sehingga di akhir hari kita merasa “wah, udah aja”. Tapi hari kerja yang monoton bikin otak kurang aktif mencatat, sehingga waktu terasa berjalan lambat meskipun kenyataannya sama-sama 24 jam.

Bisakah kita “memperlambat” waktu?

Sebenarnya bisa — caranya dengan memperbanyak pengalaman baru. Belajar hal baru, jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi, atau sekadar mencoba rutinitas yang berbeda. Semakin banyak otak harus memproses informasi baru, semakin “panjang” waktu terasa di memori kita.

Jadi kalau kamu merasa waktu makin cepat, mungkin tandanya hidupmu terlalu monoton. Cobalah sesuatu yang baru hari ini — biar otakmu punya sesuatu yang layak diingat.

sumber: Bejan, A. (2019) “Why The Days Seem Shorter As We Get Older” — PNAS | Scientific American — Why Time Speeds Up As We Age