Skip to main content

Kompas merpati itu beneran pakai magnet di kepalanya?

Kompas merpati itu beneran pakai magnet di kepalanya?

Kamu pasti pernah denger cerita kalau merpati punya “magnet” di kepalanya yang bikin mereka bisa pulang ke rumah meski dilepas jauh-jauh. Wah, keren banget kan? Tapi ternyata, cerita itu cuma separuh benar — kompas merpati bukan magnet literal di kepala, melainkan sesuatu yang jauh lebih aneh dan menarik.

Sudah sejak lama ilmuwan penasaran bagaimana merpati bisa pulang ke kandang meski dilepas di tempat yang sama sekali asing. Teori lama bilang mereka punya partikel magnetit (semacam mineral magnetik) di paruh, mata, atau telinga dalam. Tapi penelitian terbaru dari tahun 2026 mengungkap sesuatu yang nggak disangka-sangka: kompas alami merpati ternyata ada di hati mereka — bukan di kepala.

Jadi kompasnya di hati? Iya, beneran. Para peneliti dari Universitas Bonn dan Max Planck Institute di Jerman menemukan bahwa sel imun yang disebut makrofag di hati merpati mengumpulkan zat besi saat memecah sel darah merah yang sudah tua. Zat besi ini bikin makrofag punya sifat magnetik — mereka bisa merespons medan magnet bumi. Makrofag-makrofag ini ternyata duduk sangat dekat dengan serat saraf, sehingga informasi magnetik bisa ditransmisikan dari hati ke otak.

Eksperimen yang dilakukan makin meyakinkan: 34 merpati dilatih terbang pulang dari jarak lebih dari 20 kilometer. Saat makrofag di hatinya dihilangkan, merpati-merpati itu kehilangan arah dan sesat — tapi hanya saat langit mendung. Begitu matahari muncul kembali, mereka langsung bisa pulang normal. Artinya, merpati punya dua kompas sekaligus: matahari buat hari cerah, dan medan magnet bumi buat hari mendung.

Kok bisa sih sel imun jadi sensor magnet? Kuncinya di zat besi. Setiap kali sel darah merah merpati habis masa hidupnya (~120 hari), makrofag di hati akan “memakannya” dan menyerap zat besi dari dalamnya. Zat besi ini bersifat superparamagnetik — kecil banget tapi cukup buat merespons perubahan medan magnet. Karena makrofag ini berada tepat di sebelah serat saraf, mereka bisa “ngobrol” langsung dengan sistem saraf dan ngirim sinyal ke otak tentang arah medan magnet.

Jadi intinya: merpati gak punya magnet literal di kepala kayak kompas biasa. Yang mereka punya adalah sistem biologi canggih — sel imun kaya besi di hati yang bekerja sama dengan saraf — buat merasakan medan magnet bumi. Dan mereka pakai sistem ini sebagai cadangan navigasi saat matahari gak kelihatan. Keren banget ya, tubuh merpati ternyata jauh lebih kompleks dari yang kita kira.

sumber: Science (2026) — Lisowski et al. & National Geographic & Media Indonesia