Makan bareng temen kok rasanya jadi lebih enak ya?

Pernah gak sih ngerasain makanan yang biasa aja kalau sendirian, tapi tiba-tiba rasanya jadi enak banget pas makan bareng temen? Nasi padang di warung langganan sama nasi padang yang persis sama tapi dimakan rame-rame, kok rasanya beda ya. Ternyata ini bukan cuma perasaan doang — ada penjelasan ilmiahnya.
Fasilitasi sosial: otak suka makan rame-rame
Psikolog kesehatan John de Castro pernah riset soal ini pakai catatan harian lebih dari 500 orang. Hasilnya? Orang makan lebih banyak dan merasa lebih puas kalau makan bersama orang lain dibanding makan sendiri. Bahkan ada eksperimen yang menunjukkan orang makan 40% lebih banyak es krim kalau ditemani temen. Fenomena ini disebut “fasilitasi sosial” — otak kita merespons kehadiran orang lain dengan cara yang bikin pengalaman makan jadi lebih menyenangkan.
Kenapa bisa begitu? Waktu kita makan bareng orang lain, otak melepaskan hormon oksitosin — hormon yang bikin kita merasa nyaman dan terhubung. Rasa aman dan senang ini secara nggak langsung memengaruhi persepsi rasa di lidah kita. Jadi bukan makanannya yang berubah, tapi otak kita yang “nambahin” kenikmatan ekstra karena suasana sosialnya.
Kita juga ikut-ikutan
Yang menarik, waktu makan rame-rame kita tanpa sadar ngikutin pola makan orang di sekitar. Kalau temen pesen nasi goreng, kita juga jadi tergoda pesen yang sama. Kalau semua pada ngambil porsi banyak, kita juga ikutan. Ini namanya konformitas sosial — otak kita otomatis menyesuaikan diri supaya cocok dengan kelompok. Jadi rasanya “lebih enak” juga karena kita merasa nggak sendirian dalam menikmati makanan itu.
Jadi mungkin bukan resep atau bumbunya yang bikin makan bareng temen lebih nikmat — tapi otak kita yang memang dirancang buat senang kalau ada teman di meja yang sama. Makanya, sesekali traktir temen makan bareng itu investasi kebahagiaan juga, sih.
sumber: BBC News Indonesia, NCBI/NIH - Social Facilitation and Inhibition of Eating