Semut kok gak mati ya jatuh dari ketinggian?
Sama seperti manusia dan benda lain, semut bisa jatuh karena adanya gaya gravitasi. Namun, kenapa semut tidak mati? Karena berat tubuh semut lebih kecil daripada udara yang ada.
Semakin berat sebuah benda, tarikannya akan semakin besar sehingga akan semakin cepat jatuh. Hal inilah membuat semut melayang perlahan saat terjatuh dari ketinggian. Saat semut menekuk kakinya, kecepatan jatuhnya akan melambat. Ini karena berat semut yang ringan itu bisa ditahan oleh kakinya. Maka dari itu, semut bisa mendarat dengan mulus di permukaan tanah.
Selain itu, semut juga memiliki koordinasi tubuh yang hebat. Semut bisa segera menyadari posisi tubuhnya saat jatuh. Kalau jatuh dalam posisi terbalik, semut akan segera membalikkan badan. Hal ini membuat posisi kaki semut berada di bawah saat mendarat.
Bobotnya yang terlalu ringan juga membuat terminal velocity-nya kecil. Terminal Velocity adalah kecepatan konstan maksimal yang bisa dicapai suatu benda ketika terjun bebas. Setelah terminal Velocity tercapai, maka benda itu akan jatuh dengan kecepatan tetap dan tak bisa lebih cepat lagi. Faktor penentu terminal Velocity adalah berat, bentuk, dan ukuran penampang benda tersebut. Dalam hal ini, menurut hasil penelitian oleh Departemen Fisika, Universitas Illinois, USA, terminal Velocity seekor semut adalah 6,4 km/jam.
Berselisih jauh dengan terminal Velocity seorang pria dewasa yang bisa mencapai 200 km/jam. Dengan kecepatan 6,4 km/jam, plus bobot tubuhnya yang hanya beberapa miligram, tubuh seekor semut tak akan mengalami kerusakan yang berarti akibat energi benturan ketika ia mendarat.
Caption by Bobo x The Verge via Aang Maulana Ahmad/Quora
sumber: bagikertas